SELAMAT DATANG DI SITUS RESMI PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN BOMBANA
Menu Utama
November 2017
M T W T F S S
« Jan    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Archive for the ‘Berita Gembira’ Category

Beberapa program-program pembangunan pedesaan yang pernah dilaksanakan, misalnya program bidang pangan, program Inpres Desa Tertinggal, dan Program Pengembangan Terpadu Antar Desa ( PPTAD ) merupakan Salah satu upaya pemerintah dalam rangka mengembangkan pedesaan dalam mengejar ketertinggalannya dari perkotaan. Hal ini tidak lepas dari tujuan. Pemerintah meningkatkan kesejahteraan masyarakat,  Akan tetap secara keseluruhan program-program tersebut belum mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat karena semakin tingginya kebutuhan pokok tidak di barengi dengan peningkatan produktivitas produktivitas yang saat ini di kembangkan oleh masyarakat, hal ini pula tidak lepas dari masih kurangnya pembangunan sarana infrastruktur   sebagai salah satu faktor penunjang kelancaran peningkatan produktivitas sumber mata pencaharian masyarakat.

Kepala Desa Pasare Apua Kecamatan Lantari Jaya Abdul Mutalib saat disambangi pewarta majalah ini Pekan lalu mengakui hal tersebut, menurutnya dewasa ini berbagai persoalan yang membutuhkan penanganan pembangunan masyarakat desa sesungguhnya sangat mendesak, seperti ketertinggalan desa dari kota hampir di segala bidang, tidak terakomodasinya keinginan dan kebutuhan masyarakat dalam program-program pemerintah, dan kualiatas pendidikan dan kesejahteraan masih rendah semakin menambah kesenjangan social di tengah masyarakat sendiri.

“ syukurnya sejak di luncurkan program Gembira Desa Pemerintah Bombana tiga tahun belakangan ini, apa yang menjadi kebutuhan mendesak masyarakat khususnya di Desa Pasare Apua yang mayoritas penduduknya sebagai Petani Tambak sedikit Demi sedikit sudah bisa  terpenuhi “ kata Abdul Mutalib.

Abdul mutalib menjelaskan Dampak lain dari Alokasi Anggaran Gembira Desa ini bukan hanya menyasar pengembangan sisi infrastruktur Desa Pasare Apua dengan sistem swakelolah, para aparat desa sendiri baik itu yang berprofesi sebagai Imam masjid, Dukun bersalin  turut pula keciprakan dana ini. Read the rest of this entry »

Rumbia. Realitas yang ada menunjukkan bahwa kutub perencanaan teknokratis dan perencanaan politis masih mendominasi alokasi anggaran pembangunan daerah. Sementara di lain pihak, hasil-hasil perencanaan partisipatif yang merupakan representasi aspirasi masyarakat masih kurang mendapat tempat dalam pembagian alokasi anggaran pembangunan. Ketimpangan tersebut tidak hanya memunculkan persoalan manajerial perencanaan saja, tetapi lebih jauh dari itu, telah muncul anggapan bahwa pengalokasian anggaran pembangunan daerah kurang mampu mengakomodir kepentingan dan aspirasi masyarakat. Permasalahan yang mengakibatkan munculnya ketimpangan berbagai kutub perencanaan tersebut adalah rendahnya mutu proses dan mutu hasil perencanaan partisipatif. Disamping itu, hasil-hasil perencanaan partisipatif belum mampu dikanalisasi untuk mewarnai hasil perencanaan teknokratis dan perencanaan politis.

Pelaksana Kepala Desa Anugrah I Putu Arta Wayasa mengungkapkan upaya memperkuat proses perencanaan partisipatif dipandang sebagai langkah strategis dalam mewujudkan harmonisasi perencanaan dan penganggaran pembangunan. Perbaikan tersebut meliputi aspek metodologi, kualitas proses dan dukungan pendampingan yang memadai. Panduan Pelaksanaan program – program yang digalakkan pihak pemerintah haruslah seiring dan sejalan apa yang menjadi keinginan masyarakat, karena bukan tidak mungkin ketersesuaian pembangunan akan berbenturan antara kebijakan dengan keinginan.

“ makanya pelaksanaan program gembira di desa kami sebelum dilaksanakan terlebih dahulu kami rapatkan melalui musrembang tingakt desa kemudian kami usulakan menjadi program kegiatan yang biayanya kami ambil dari alokasi dana gembira desa “ papar I Putu Arta Wayaasa.

Namun di satu sisi dirinya enggan merinci lebih jauh apa saja yang menjadi fokus pembangunan di desanya selama, dirinya beralasan hal tersebut masih menjadi kewenangan Kepala Desa lama, tapi secara garis besar dirinya mengakui bahwa apa yang diraih melalui program Gembira Desa  tahun sebelum dirinya menjabat banyak perubahan di desanya.

“ kalau sejak saya menjabat selaku pelaksana kepala Desa Anugrah ada beberapa fokus pembangunan yang saya laksanakan seperti pembangunan Jembatan Penghubung Desa, Deukker dan Papan Desa serta perbaikan Kantor Desa “ Arta sembari mengajak Pewarta Majalah ini melihat langaung pembangunan jembatan tersebut.

Bukan  hanya itu, Pria yang lahir di pulau Dewata Bali ini mengakui untuk proses pembangunan melalui alokasi dana gembira desa sebanyak 350 juta pertahunnya yang di gelontorkan pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Bombana lebih banyak dirinya gunakan untuk pembangunan sarana fisik, namun di satu pihak Arta tak memungkiri masih banyak yang telah dia programkan belum bisa terlaksana tahun ini salah satunya pembangunan Rumah Ibadah Pura.

“ Pengalokasian dana inikan harus sesuai Petunjuk Tehnik Operasional ( PTO ) yang sudah ditentukan, penyaluran dana ini bukan hanya untuk fisik semata, pemberian insentif bagi pelayan dan aparat desa juga meciprakan dana ini, sehingga program – program lainnya kemungkinan besar tahun depan baru kita usulkan “ kata Pria bertubuh kekar ini.

Sementara itu ditempat terpisah, ketua Badan  Pembangunan Desa ( BPD ) Desa Anugrah Suparno saat di temui menuturkan apa yang menjadi fokus pembangunan di Desa anugrah  melalui alokasi dana gembira sudah mencapai hasrat pembangunan yang berkembang di masyarakat selama ini, pasalnya Kebijakan perencanaan pembangunan desa merupakan suatu pedoman-pedoman dan ketentuan-ketentuan yang dianut atau dipilih dalam perencanaan pelaksanakan pembangunan di desa yang mencakup seluruh aspek kehidupan dan penghidupan masyarakat haruslah berlandaskan tujuan menuju kesejahteraan masyarakat. Read the rest of this entry »

Rumbia. Sebagian orang mungkin masih asing jika mendengar nama daerah ini, hal tersebut cukup beralasan karena pada awalnya desa ini hanya merupakan bagian terkecil dari Desa Lantowua sebelum mekar di tahun 2007 silam,

Setelah di defenitifkan tahun 2008, Desa Watumentade hanya berpenduduk 433 jiwa dan di pimpin seorang Kepala Desa bernama Saini R hingga sekarang, namun seiring waktu, populasi jumlah penduduk Desa Watumentade mengalami peningkatan, dari data yang diperoleh, saat ini jumlah penduduk di Desa yang luasnya hanya 4000 Km2 sudah mencapai 538 Jiwa dengan jumlah Kepala Keluarga yang terdata sebanyak 151 KK.

Desa yang cukup asri ini secara geografis memiliki batas wilayah Utara Berbatasan    Dengan     Desa  Hukaea, Sebelah  Timur berbatasan    Dengan  Selat Tiworo, Sebelah Selatan berbatasan Dengan Desa  Lantowua dan Sebelah  Barat  berbatasan    Dengan     Desa  Ladumpi, bisa dikatakan desa ini masih dalam tahap pembangunan, namun dari perkembangannya sejak memisahkan diri dari Desa Lantawua telah banyak kemajuan yang diraih Desa yang mayoritas penduduknya berpenghasilan sebagai Nelayan tambak dengan luasan area di perkirakan 211 Ha.

BACA SELENGKAPNYA

Alokasi Dana Gembira Desa yang di gelontorkan oleh Pemerintah Kabupaten Bombana yang banyak menjadi keraguan berbagai pihak ternyata dalam pelaksanaannya, langkah ini dapat membentangkan kesempatan yang luas bagi masyarakat, terutama orang miskin, untuk berpartisipasi secara aktif dalam pembangunan desa. Keraguan yang ada sebelumnya di mana warga masyarakat dan pemerintah desa/ kelurahan tidak mampu membuat perencanaan penganggaran yang berkualitas dan dapat diimplementasikan, menjadi hilang seketika, Sejalan dengan itu, mulai muncul harapan dan optimisme baru bahwa warga masyarakat dan pemerintah desa, didukung oleh pemerintah di atasnya dan Organisasi Masyarakat Sipil dan lembaga donor, bisa mewujudkan otonomi desa secara meyakinkan khususnya dalam pembangunan infrastruktur dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. BACA SELENGKAPNYA

Rumbia. Perubahan suatu wilayah memang menjadi suatu dambaan tersendiri bagi masyarakat yang mendiami suatu daerah,  apalagi jika letaknya secara goegrafis daerah  tersebut berada di suatu kepulauan yang akasesnya cukup  sulit untuk dijangkau, maka hal itu dapat di pastikan menimbulkan dorongan dan animo bagi masyarakat  agar bisa sejajar dengan daerah – daerah lainnya.

Bagi pemerintah tepatlah kiranya apabila program pengembangan atau pemberdayaan masyarakat, didiskusikan dan direncanakan secara matang dan dibuat secara periodik, sebab membangun masyarakat tidak dapat dicapai dengan upaya-upaya yang sifatnya parsial, tetapi harus komprehensif dan terintegrasi. Ia harus menjadi kebutuhan bersama dan digerakkan secara komprehensif, gradual dan terus menerus dengan arah dan tujuan serta strategi yang jelas dan tepat. Pergerakkan semacam ini tidak mungkin dapat terwujud jika tidak ada kesepakatan untuk kita secara bersama-sama mewacanakan dan mendiskusikannya kemudian membuatnya dalam sebuah dokumen perencanaan yang baik untuk ditaati bersama dalam pelaksanaannya.

Munculnya berbagai macam asumsi dari sebagian kalangan yang kontradiktif dengan keinginan pemerintah untuk memeratakan pembangunan di semua desa melalui program gembira Desa menimbulkan tanda tanya besar bagi sebagian besar masyarakat, salah satunya kepala Desa ulungkura Heruyanto, SH.

Ditemui di ruang kerjanya pekan lalu, Heruyanto mengaku merasa heran dengan banyaknya pihak yang menyoroti program ini, khususnya di desanya yang terletak di kepulauan, sejak kabupaten Bombana terbentuk, baru di era pemerintahan saat ini ada sebuah program yang langsung di kelolah oleh Aparatur Desa dan melibatkat langsung masyarakat dalam bentuk swakelolah.

“ kalau program ini di kritisi mungkin wajar saja sebagai bahan masuk, tapi kalau program ini dikatakan tidak berhasil, maka saya dengan tegas membantah hal itu, silahkan turun langsung bertanya di masyarakat mengenai program ini, saya bisa pastikan fakta akan ssangat jelas kelihatan ‘ terang Heru. Read the rest of this entry »