Menu Utama
October 2014
M T W T F S S
« Sep    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Kabaena, sejal bulan November 2006 lalu, Musyawarah  Adat ke 2 Lembaga Adat Moronene ( LAM ) Tokotu’a sedianya dilaksanakan selama 2  hari  di desa Tangkeno Kecamatan Kabaena Selatan kembali digelar oleh masyarakat Moronene Tokotu’a untuk merumuskan berbagai hal yang dipandang penting dalam melestarikan budaya asli kabaena.  

Abdul Majid Ege Ketua  LAM Tokotu’a mengatakan bahwa kegiatan musyawarah adat yang dilaksanakan bukan hanya untuk menggali dan melestarikan budaya, namun hal ini bertujuan untuk di jadikan sebagai bentuk identitas dari keberadaan suku moronene Tokotu’a terhadap keberagaman budaya yang ada di negeri ini khususnya di sultra.  

” kami selaku masyarakat Tokotu’a sangat berterima kasih kepada pihak pemerintah daerah karena sudah menyambut baik dan merspon keinginan kami dengan menghadiri kegiatan musyawarah adat ini ” kata Abd. Majid  

Musyawarah LAM Tokotu’a yang sedang dilaksanakan menurut Abdul Madjid Ege bukan pertama kalinya, karena pada tahun 2006 lalu musyawarah adat LAM pertama dilaksanakan, namun seiring perjalanan waktu kata Abd. Majid proses dari pencapaian kepengurusan lalu masih dipandang perlu untuk lebih ditingkatkan lagi.  ” kita sangat mengharapkan agar kedepannya LAM Tokotu’a ini bisa lebih berperan aktif dalam pengenalan dan pengembangan nilai nilai budaya sehingga budaya Tokotu’a bisa lebih dikenal oleh masyarakat luas” harap Abdul Majid.  

Ditambahkan pula oleh tokoh yang dituakan dikalangan Moronene Tokotu’a ini bahwa dirinya dan seluruh lapisan masyarakat Tokotu’a menginginkan Lembaga adat ini bisa bersinergi dengan pemerintah untuk memecahkan berbagai persoalan yang ada di kabaena, pasalnya menurut Abdul majid, sekarang ini kabaena sangat dikenal sebagai salah satu pengasil nikel di bombana sehingga banyak perusahaan yang masuk di kabaena dimana keberadaan mereka dianggap belum terlalu berpihak kepada kelangsungan hidup masyarakat, namun dirinya juga mengakui beradaan perusahaan perusahaan tersebut juga sedikit banyak membawa dampak positif dengan banyaknya anak anak kabaena bekerja diperusahaan tersebut.  

” ini harus kita dudukkan bersama antara pemerintah daerah dan masyarakat, karena kami yakin ada pengelolaan manajemen yang belum pas, tapi kami yakin bahwa pemerintah daerah akan membantu kami untuk menyelesaikannya ” pungkas Abdul Majid.  

Kegiatan Musyawarah Lembaga Adat Moronene ke 2 Tokotu’a ini, selain untuk membahas dan memilih kembali ketua lembaga adat yang baru, pada kegiatan ini pula diagendakan untuk merumuskan dan membukukan salah satu prosesi budaya asli Tokotu’a yakni prosesi pernikahan. Yang tidak kalah menariknya pada pembukaan musyawarah tersebut, Tarian Lumense yang asli turut pula diperagakan, konon menurut beberapa sumber bahwa tarian lumense yang sering dilakukan contohnya pada peringatan 2 mei lalu di dongkala, bukan merupakan tarian lumense asli karena sudah di moderenisasi.  

Sementara itu, Bupati Bombana H. Tafdil mengatakan pemerintah daerah sangat mengapresiasi musyawarah adat LAM ke 2 ini, karena menurutnya adat istiadat merupakan cerminan dari Budaya yang kita miliki dan harus dilestarikan keberadaannya sehingga ciri khas dari daerah kita bisa dikenali masyarakat luas.  

” kami saat ini terus mensosialisasi nilai nilai budaya asli daerah ini, bahkan baru – baru ini pada milad ke 65 RKM di makassar, pagelaran budaya sempat dilaksanakan disana dan mendapat apresiasi yang sangat luar biasa”  kata H. Tafdil.  

Kedepannya, Ketua DPD  PAN Bombana ini mengatakan Kabupaten Bombana akan mengikuti 2 kegiatan besar yang bernuansa budaya, selain Festival Budaya di kendari, tahun ini juga Kabupaten Bombana akan mengikuti festival keraton nusantara di Bau-Bau. sehingga suami dari Hj. Nirwana ini menginginkan akan mengikut sertakan Tarian Lumense asli untuk diperagakan pada 2 even tersebut sebagai salah satu bentuk promosi dan pengenalan budaya.  

“awal pemerintahan kami mulai mencari budaya asli daerah kita, karena hal tersebut merupakan salah satu target utama kami untuk dilestarikan dalam bentuk kearifan budaya lokal yang perlu dijaga kelestariannya” urai H. Tafdil.  

H. tafdil mengharapkan musyawarah adat ini dijadikan sebagai salah satu momentum untuk menghasilkan suatu rumusan yang dapat bersinergi dengan tujuan pemerintah kedepan untuk memajukan bombana di segala bidang.   ” pemerintah daerah akan bertangggung jawab penuh akan semua kegiatan yang mwnyangkut kebudayaan yang dilaksanakan oleh masyarakat. silahkan rumuskan semua terkait adat istiadat kita, pemerintah akan mengsupport hal tersebut “pinta H. Tafdil.  

Leave a Reply