LEGENDA PUTERI NEGERI D AWAN BERSEMI DI SULTRA TENUN KARNAVAL 2019

LEGENDA PUTERI NEGERI D AWAN BERSEMI DI SULTRA TENUN KARNAVAL 2019

Rumbia, Kominfos

(Sumber : Kominfos) Legenda puteri negeri di awan menjadi sebuah tema andalan pemerintah Kabupaten Bombana dalam rangkaian hari ulang tahun provinsi Sulawesi Tenggara (HUT- Sultra) ke 55. Cerita ini menjadi bagian dari  ragam budaya dan tradisi  yang  ditampilkan di ajang Sultra Tenun karnaval  tahun 2019 di Kota Kendari.

Di ajang itu, sang puteri tampil dengan mengenakan pakaian khas suku Moronene dengan ragam corak dan motif yang  terpancar dari kereta dan gaunnya. Ragam corakdan motif itu bermakna  filosofis  sebagai gambaran atas keragaman suku dan budaya yang menyatu dalam satu kesepakatan membangun bangsa.

Sang puteri pun dikawal oleh 150 pasukan yang melibatkan seluruh jajaran satu kerja perangkat daerah (SKPD) se-Kabupaten Bombana. Semangat sang puteri dan pasukan pun tetap terlihat meski diguyur hujan.

Cantik dan rupawan, itulah julukannya hingga mendapat pengakuan oleh masyarakat leluhur sejak ratusan tahun silam hingga saat ini. Tak banyak masyarakat di generasi sekarang ini yang mengetahui legenda cerita dibalik pengakuan leluhur hingga dinobatkan sebagai sang puteri yang memiliki kecantikan yang  abadi hingga akhir khayatnya.

Sang puteri bukanlah berasal  dari keturunan bangsawan, bukan pula bidadari dari kayangan. Namun, ia hanalah anak petani yang tak sengaja melintas di sebuah mata air (sumur) di wilayah desa Tangkeno, Kecamatan Kabaena Tengah, Kabupaten Bombana, Sultra. Ketidaksengajaan itu membuat anak petani berwajah lusuh itu berubah wujud menjadi elok nan rupawan.

Dikisahkan, puteri negeri di awan  merupakan legenda cerita masyarakat leluhur suku Moronene Tokotua yang berada di ketinggian 650 meter dari permukaan laut, tepatnya di desa Tangkeno, Kecamatan Kabaena Tengah.

Di wilayah itu, terdapat sebuah air jatuh yang letaknya tak jauh dari pemukiman warga. Masyarakat setempat menyebut tempat itu dengan nama air jatuh Tondopano. Air jatuh Tondopano  memiliki tiga sumur yang sangat jernih dan segar.

Konon cerita, air jatuh tersebut menjadi tempat para bidadari kerap kali turun dan mandi-mandi. Gerimis kecil diselimuti awan menjadi pertanda bahwa para bidadari sedang asyik mandi. Tak sebatas itu, pertanda ini pula masih dirasakan warga sampai saat ini, utamanya di setiap perhelatan festival budaya Tangkeno yang digelar setiap tahunnya.

Lanjut cerita, hingga pada suatu hari, seorang gadis desa (petani) tengah beristrahat tak jauh dari air jatuh Tondopano. Gadis ini lelah dengan aktivitasnya sebagai pengumpul kayu di hutan. Sang gadis pun berniat membasuh muka serta menghilangkan dahaga. Gadis itupun mendekati tepi air yang diselimuti awan.

Namun, betapa kagetnya gadis itu melihat beberapa gadis cantik yang sedang mandi. Seketika itu pun gadis-gadis yang dilihatnya menghilang diikuti dengan awan yang menyelimuti tempat itu.  Air jatuh Tondopano pun kembali cerah namun tetap meninggalkan aroma wewangian bidadari.

Sang gadis petani itu berfikir itu hanya sekedar halusinasi belaka. Ia pun melanjutkan niatnya untuk tetap membasuh muka dan bahkan meminum air di salah satu sumur pada iir jatuh tersebut. Tanpa disadarinya, paras gadis itu berubah menjadi cantik dan rupawan. Warga di pemukiman pun kaget akan hadirnya sosok cantik dihadapan mereka. Gadis itu hanya mengakui kecantikan itu diperoleh usai membasuh wajah dan meminum air di air jatuh Tondopano.

Atas kecantikan yang dimilikinya, masyarakat setempat pun menjulukinya sebagai "puteri negeri di awan". Sejak saat itu, kecantikan sang puteri ini tak perenah pudar dan tak lekang oleh waktu.

Sejak penobatan itu, sang gadis dengan julukan putri negeri diawan itu semakin elok ketika dilengkapi  kereta dan gaunnya.  Kereta yang  dipakai sang putri diibaratkan sebuah rumah  yang dilengkapi dengan simbol-simbol adat yang memiliki makna. Gaun yang dikenakan sang puteri pun memiliki corak dan motif yang memiliki filosofi yang bila dikaitkan dengan peradaban perkembngan kehidupan masyarakat moronene yaitu berbeda-beda watak dan tingkah laku dan strata sosial, namun tetap saling menghargaj dan menghormati satu sama lain.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bombana, Janariah menyampaikan, pihaknya kwmbali menampilkan sosok puteri negeri di awan dalam sultra tenun  karnaval 2019 sebagai upaya mengaungkan destinasi wisata unggulan di Bombana. Sebab, kehadiran sang puteri itu dapat mencerminkan kehidupan yang tak sekedar cantik dari paras, namun kecntikan itu mesti ditanamkan dalam lubuk jiwa, dan berdampak pada keindahan dalam aspek penampilan serta bermuara pada tingkah laku saling menghormati dan menghargai segala  perbedaan.

Dikatakan, legenda puteri negeri di awan merupakan kali kedua ditamoilkan selama perhelatan HUT Sultra yang sebelumnya pertama kli ditampilkan tahun 2017 lalu.

" Negeri di awan menjadi slogan yang telah disematkan untuk desa wisata Tangkeno setelah dijukuhkan menjadi  salah satu destinasi wista unggulan Kabupaten Bombana sejak thun 2013. Hadirnya jelmaan sang puteri di ajang Sultra Tenun Karnaval tahun 2019  itu telah mewakili seluruh suku, ras, agama dan Antar golongan melalui kereta dan gaun yang dikenakannya," ungkap Janariah.

Komentar

Belum ada komentar

Komentar Anda