KESADARAN MASYARAKAT MEMERANGI COVID-19

KESADARAN MASYARAKAT MEMERANGI COVID-19

KESADARAN MASYARAKAT MEMERANGI COVID-19

Oleh : SRI KARTINA. AN

(Mahasiswa Program Pasca Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Halu Oleo)

Kamis, 26 Maret 2020, Beberapa bulan terakhir dunia dikhawatirkan dengan munculnya coronavirus yang baru ditemukan yang menyebabkan penyakit Corona Virus Disease (COVID 19). Penyakit ini menyerang sistem saluran pernafasan dengan gejala umum berupa demam, batuk kering dan sesak napas, yang dapat menular melalui droplet dari hidung atau mulut. 

Sri Kartina mengatakan, Penyebarannya yang begitu cepat membuat Covid-19 menjadi pandemi mematikan saat ini. Beberapa orang dapat terinfeksi tetapi tidak merasakan gejala apapun, sehingga hal ini cukup mengkhawatirkan sebab mereka dapat menjadi “Carrier (pembawa)” virus Covid-19 ke orang lainnya jika mereka tetap beraktivitas diluar rumah seperti biasanya. 

Kata Kartina, Data terbaru menunjukkan, secara global jumlah kasus terkonfirmasi Covid-19 sebesar 332.930 kasus, dengan 14.510 kematian (angka kematian sebesar 4,3%, artinya tiap 100 kasus Covid-19 diperkirakan terdapat 4 kematian). Di Indonesia, kasus Covid-19 mencapai 686 kasus terkonfirmasi, dimana 55 kasus diantaranya meninggal dunia, dan 30 kasus dinyatakan sembuh. Angka ini diperkirakan akan terus bertambah dari waktu ke waktu hingga mencapai puncak pandemic Covid-19 di Indonesia.

Menurutnya, sejak munculnya kasus terkonfirmasi di Indonesia, pemerintah mengeluarkan kebijakan social distancing (pembatasan sosial) yang sekarang menjadi Physical distancing (pembatasan fisik) yang diharapkan dapat mencegah penyebaran virus dari orang ke orang dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain, mengurangi aktivitas diluar rumah dan tetap berada dalam rumah. 

Selain itu himbauan untuk melakukan isolasi diri di rumah bagi masyarakat yang sakit ataupun bagi orang dengan riwayat perjalanan dari daerah transmisi lokal Covid-19 yang memiliki gejala demam atau gangguan pernafasan. Orang yang tinggal atau pernah berpergian didaerah terdampakCovid-19 sangat mungkin berisiko terinfeksi, itulah mengapa seseorang dengan gejala demam ≥38°C atau riwayat demam, atau gejala gangguan system pernapasan seperti pilek/saki tenggorokan, batuk  dan pada 14 hari terakhir sebelum gejala memenuhi salah satu kriteria yaitu memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di luar negeri yang melaporkan transmisi lokal atau memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di area transmisi lokal di Indonesia, memerlukan pemantauan selama 14 hari yang dikenal dengan istilah Orang Dalam Pemantauan (ODP).

Sementara bagi pelaku perjalanan area terjangkit dan tidak menunjukkan gejala (asymptomatic), tetap di himbau untuk self monitoring (wajib melakukan monitoring mandiri terhadap kemungkinan gejala selama 14 hari sejak kepulangan; sebaiknya mengurangi aktivitas yang tidak perlu dan menjaga jarak kontak (≥ 1 meter) dengan orang lain; jika dalam 14 hari timbul gejala, maka segera ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat). Selain berisiko terinfeksi, ODP juga berisiko untuk menularkan kepada orang-orang disekitarnya jika ia memiliki virus corona didalam tubuhnya.

Namun, sangat disayangkan,himbauan pemerintah untuk mengurangi kegiatan di luar rumah (selain karena hal penting dan mendesak) masih belum mendapat perhatian di masyarakat. Kenyataannya, masih banyak masyarakat yang tetap beraktivitas di luar rumah hanya sekedar untuk jalan-jalan, berkumpul bersama atau kegiatan lainnya yang tidak mendesak. Tidak heran jika tempat-tempat umum seperti pasar, mall, kafe atau tempat lainnya masih dipenuhi oleh masyarakat di tengah-tengah wabah Covid-19 yang kian meningkat dari hari ke hari. 
Sejak diumumkannya 3 kasus positif Covid-19 di Provinsi Sulawesi Tenggara beberapa hari yang lalu, tampaknya masih banyak masyarakat yang tetap mengabaikan arahan pemerintah untuk tetap di rumah. Pemerintah daerah, tenaga kesehatan dan berbagai sektor lainnya sudah berupaya untuk memberikan edukasi kepada masyarakat, namun bila tidak didukung dengan kesadaran diri, tujuan bersama untuk memutus mata rantai penularan sulit tercapai.

Kita masih perlu banyak belajar dari Negara lainnya, tentang bagaimana mereka melakukan self monitoring dan self protection, bagaimana masyarakat mematuhi kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah atas kesadaran sendiri. Memerangi Covid-19 membutuhkan kerjasama dari seluruh pihak, tidak hanya mengharapkan peran pemerintah, tenaga medis, atau lembaga lain yang kompeten, tapi dimulai dari kesadaran diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. 

Terlepas dari berbagai masalah yang kita hadapi saat ini, kita tidak perlu berkecil hati. Meskipun penularan covid-19 sangat cepat, namun kita dapat bersama-sama berupaya memutus mata rantai penularan, melindungi diri dengan mencuci tangan secara teratur, jaga jarak minimal satu meter dari orang yang bersin atau batuk, menutup mulut saat batuk dan bersin dengan menggunakan siku, melakukan isolasi diri di rumah bersama keluarga, serta menjaga daya tahan tubuh dengan konsumsi makanan bergizi ataupun multivitamin.

Selain itu, pelaksanaan surveilans terpadu secara aktif di fasilitas pelayanan kesehatan dalam menjaring kasus, keterlibatan masyarakat untuk melaporkan diri dan keluarga ketika telah berpergian ataupun memiliki gejala Covid-19 sangat dibutuhkan saat ini.

Komentar

Belum ada komentar

Komentar Anda