Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kusta, Dinkes Gelar Peningkatan Kapasitas Programer

Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kusta, Dinkes Gelar Peningkatan Kapasitas Programer

Kominfo, Dinkes Bombana - Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Ratnawati, SKM menjelaskan Kusta adalah penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae, yang menyerang kulit dan jaringan saraf perifer serta mata dan selaput yang melapisi bagian dalam hidung. Penyakit Kusta disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae (M. leprae), sejenis bakteri yang tumbuh dengan lambat. 

Penularan kusta bisa melalui kontak kulit yang lama dan erat dengan pengidapnya. Di samping itu, kusta juga bisa ditularkan lewat inhalasi alias menghirup udara. Alasannya bakteri penyebab kusta dapat hidup beberapa hari dalam bentuk droplet di udara. Namun, sebenarnya penyakit kusta bukanlah penyakit yang mudah untuk menular.

Ratnawati, SKM menyampakan, dari 22 Puskesmas, baru 14 Pukesmas yang mengikuti kegiatan ini, dan dari 14 puskesmas kami bagi menjadi 2 lokasi yaitu Zona Rumbia yang terdiri dari 7 Puskesemas yaitu Puskesmas Rumbia, Rumbia Tengah, Lombakasih, Rarowatu Utara, Kabaena Tengah, Kabaena Timur dan Kabaena Barat yang bertempat di halaman Kantor Dinkes pada tanggal 13 Oktober 2020 dan zona Poleang juga terdiri dari 7 Puskesmas yaitu Puskesmas Poleang, Poleang Tengah, Poleang Utara, Poleang Selatan, Poleang Tenggara, Poleang Timur dan Tontnunu yang di Pusatkan di RTH Desa Rompu-Rompu pada tanggal 14 Oktober 2020.

Pada kegiatan tersebut, Pesertanya yaitu Pogramer Kusta Tiap Puskesmas, dan yang menjadi narasumber yaitu Konsultan Netherland Leprosy Relief (NRL) bersama tim wasor dari Dinkes Provinsi Sultra dan juga Tim P2P Dinkes Boombana. Selain itu, untuk menjaga protokol kesehatan harus tetap memakai masker, disediakan sarana cuci tangan, menjaga jarak dengan mengatur kapasitas pertemuan di masa pandemi dan juga dilaksanakaan di area terbuka. 

"Kegiatan ini kami lakukan dengan cara diskusi dan juga praktek pemeriksaan, Intinya petugas dilatih bagaimana memeriksa suspec kusta secara standar, pengobatan dan perawatan diri pasien dan juga Menentukan diagnosa Kusta Pausibasiler (PB) dan Multibasiler (MB), "Kata Ratnawati

Menurut Ratna, Penyakit kusta apabila tidak terdiagnosis hingga ditangani sedini mungkin bisa jadi menyebabkan kecacatan yang permanen pada tubuh penderita. Oleh sebab itu, sangat dianjurkan bagi siapa saja mengetahui cara mendeteksi penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium leprae tersebut untuk menanggulangi kemungkinan terburuk. ”ujarnya

Ratna menambahkan, pada kegiatan kali ini para Programer kusta di puskesmas-puskesmas di Kabupaten Bombana diajarkan tentang praktek pemeriksaan. Sekurang-kurangnya 1 dari ke 3 gejala yang ditemukan pada penderita sudah dapat didiagnosis sebagai kusta.

Berikut ini 3 gejala atau tanda penyakit kusta yang perlu dikenali oleh khalayak 1. Lesi (kelainan kulit) yang mati rasa Kelainan kulit dapat berupa bercak keputih-putihan atau kemerah-merahan yang mati rasa bisa terjadi secara total maupun sebagian. Kulit yang mengalami kelainan tersebut mental akan rasa sentuh, rasa suhu, maupun rasa nyeri. 2. Penebalan saraf tepi Penderita kusta akan mengalami penebalan saraf tepi yang disertai dengan gangguan fungsi saraf yang diakibatkan ole adanya peradangan kronis saraf tepi. Penderita juga mungkin akan mendapati gangguan fungsi sensoris, gangguan ungsi motoris kelemahan otot atau kelumpuhan, hingga gangguan fungsi saraf otonom kulit kering. 3. Ditemukan bakteri tahan asam (BTA) Adanya bakteri tahan asam (BTA) di dalam kerokan jaringan kulit menjadi tanda hadirnya penyakit kusta. " jelas Kasie Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular saat ditemui diruang kerjanya senin (19/10)

Penyakit menular ini terbukti bisa saja dikendalikan dan dapat diobati dengan tuntas. Hanya, butuh keseriusan dari semua pihak, baik pasien, dokter, maupun tenaga kesehatan lain untuk menangani penyakit menular ini. Keberhasilan proses pengobatan kusta tergantung juga dengan jenis kusta yang diderita, apakah itu pausi basiler (PB), kusta tipe multi basiler (MB) atau kusta tipe basah. Semakin parah penyakit kusta yang diderita, maka makin lama atau sulit juga proses pengobatannya. 

layanan pengobatan kusta dengan multidrug therapy (MDT) tersedia gratis di Puskesmas. Belum Ada Pengobatan Sempurna, "Kira-kira pengobatan kusta bisa mulai dari 6 bulan sampai dengan 18 bulan. Semua itu tergantung dengan klasifikasi, kepatuhan dan disiplin penderita. Selain itu tentu tergantung kondisi fisik dan imunitas penderita," ungkap Ratna.

Laporan : Andi Musdalifa

Komentar

Belum ada komentar

Komentar Anda