BOMBANA DI MATA TOKOH PEMEKARAN

SHARE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Drs. Sukarnaeni, M.Si

Pasca Reformasi tahun 1997/1998 dengan dikeluarkannya Undang – Undang  Otonomi daerah tahun 1999. Eforia pemekaran wilayah menjadi sesuatu yang sangat marak di Indonesia sampai saat ini, tak terkecuali di Provinsi Sulawesi Tenggara.

Sebagai suatu daerah yang waktu itu hanya merupakan bagian dari  pemerintah Kabupaten Buton yang memiliki rentang kendali yang cukup jauh, menjadikan para tokoh – tokoh di tiga wilayah ( Rumbia, Poleang dan Kabaena ) sebagai penopang mekarnya Kabupaten Bombana dari Pemkab Buton mulai menggaungkan keinginan mereka untuk memiliki pemerintah sendiri.

Drs. Sukarnaen, M. Si  yang merupakan salah seorang tokoh pemekaran yang ditemui pekan lalu menuturkan jika ingin mengulas kembali perjalanan panjang mekarnya Kabupaten Bombana dari Pemkab Buton saat itu, memang yang menjadi alasan utama masyarakat khususnya tokoh – tokoh pemekaran saat itu tidak lain karena rentang kendali sistem pemerintahan waktu itu tergolong sangat rumit, sehingga masyarakat jika ingin berurusan di Ibu Kota Kabupaten ( Buton ) waktu itu harus menempuh jarak yang sangat jauh.

” Semangat pemekaran ini sebenarnya lahir sejak dulu, kami hanya meneruskan sebagai suatu kewajiban  karena waktu itu kami melihat adalah celah dengan lahirnya undang – undang otonomi daerah ditambah sumber daya yang kita miliki saat itu sudah memadai  ” kata Sukarnaeni.

Kabupaten Bombana yang saat ini sudah memasuki umur yang cukup matang kata Sukarnaeni, dari sisi pembangunan infrastrukturnya sudah mulai menampakkan hasil yang begitu
Signifikan, tengok saja saat ini di ibu kota sementara giat – giatnya melakukan pembangunan.

Tokoh yang dari pengakuan beberapa pihak harus rela meninggalkan keluarga selama 4 bulan lamanya berada di Ibukota Republik ini hanya demi memperjuangkan mekarnya Kabupaten Bombana, sedikit mengisahkan begitu beratnya usaha yang dilakukan para tokoh pemekaran saat itu, bahkan menurut ceritanya yang membuat bulu kuduk merinding, dirinya beserta tokoh lainnya seperti Rekson, S Limba tokoh masyarakat Rumbia yang saat ini menjabat Dekan Fakultas Fisip Unhalu, Yamin Indaz Wartawan senior Harian Kompas yang berasal dari Kabaena. Dan tokoh lainnya bertekad melepaskan apapun bahkan harta benda mereka asalkan Kabupaten Bombana saat itu bisa menjadi daerah otonom sendiri bukan lagi dibawah kendali Pemerintah Buton.

” Saya sendiri pernah hampir di berhentikan menjadi Pegawai Negeri Sipil karena meninggalkan tugas demi pemekaran kala itu, bahkan saya dan rekan rekan lain salah satunya Sahrun Gaus pernah tidak makan di Ibu Kota Negara kala itu ” ujar Sukarnaeni sambil menyeka air matanya kala menceritakan awal pergerakan pemekaran di hadapan penulis berita ini.

” Di depan mata kini kita di pertontonkan pengaspalan di seluruh sudut ibu kota, ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari semangat pemekaran yang telah di capai, apalagi yang harus kita lakukan selain bersama – sama pemerintah mendorong percepatan pembangunan infrastruktur di bumi bombana ini, daerah kita kaya akan potensi potensi tambangnya, sumber daya lautnya, pertanian dan lainnya yang butuh kerjasama semua pihak ” papar Sukarnaeni

” Saya berharap agar seluruh masyarakat mendukung apa yang menjadi agenda pemerintah saat ini, pembangunan itu membutuhkan proses yang cukup panjang, namun apa yang telah di capai saat ini, pembangunan infrastruktur yang semakin nampak, meningkatnya pendapatan perekonomian masyarakat adalah suatu hal yang patut di syukuri ” tambahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *