FASILITAS DESA ULUNGKURA MULAI DIBENAHI

SHARE:
  •  
  • 6
  •  
  •  
  •  

Rumbia. Perubahan suatu wilayah memang menjadi suatu dambaan tersendiri bagi masyarakat yang mendiami suatu daerah,  apalagi jika letaknya secara goegrafis daerah  tersebut berada di suatu kepulauan yang akasesnya cukup  sulit untuk dijangkau, maka hal itu dapat di pastikan menimbulkan dorongan dan animo bagi masyarakat  agar bisa sejajar dengan daerah – daerah lainnya.

Bagi pemerintah tepatlah kiranya apabila program pengembangan atau pemberdayaan masyarakat, didiskusikan dan direncanakan secara matang dan dibuat secara periodik, sebab membangun masyarakat tidak dapat dicapai dengan upaya-upaya yang sifatnya parsial, tetapi harus komprehensif dan terintegrasi. Ia harus menjadi kebutuhan bersama dan digerakkan secara komprehensif, gradual dan terus menerus dengan arah dan tujuan serta strategi yang jelas dan tepat. Pergerakkan semacam ini tidak mungkin dapat terwujud jika tidak ada kesepakatan untuk kita secara bersama-sama mewacanakan dan mendiskusikannya kemudian membuatnya dalam sebuah dokumen perencanaan yang baik untuk ditaati bersama dalam pelaksanaannya.

Munculnya berbagai macam asumsi dari sebagian kalangan yang kontradiktif dengan keinginan pemerintah untuk memeratakan pembangunan di semua desa melalui program gembira Desa menimbulkan tanda tanya besar bagi sebagian besar masyarakat, salah satunya kepala Desa ulungkura Heruyanto, SH.

Ditemui di ruang kerjanya pekan lalu, Heruyanto mengaku merasa heran dengan banyaknya pihak yang menyoroti program ini, khususnya di desanya yang terletak di kepulauan, sejak kabupaten Bombana terbentuk, baru di era pemerintahan saat ini ada sebuah program yang langsung di kelolah oleh Aparatur Desa dan melibatkat langsung masyarakat dalam bentuk swakelolah.

“ kalau program ini di kritisi mungkin wajar saja sebagai bahan masuk, tapi kalau program ini dikatakan tidak berhasil, maka saya dengan tegas membantah hal itu, silahkan turun langsung bertanya di masyarakat mengenai program ini, saya bisa pastikan fakta akan ssangat jelas kelihatan ‘ terang Heru.

Alumni Fakultas Hukum Unsultra ini mencontohkan, sejak desa ini di mekarkan beberapa tahun silam, masih sangat banyak fasilitas pelayanan publik yang tidak tersedia, bahkan hal itu paparnya terjadi sampai tahun 2010 salah satunya adalah posyandu yang jika pada awalnya masyarakat harus rela berjalan kaki menuju desa sebelah untuk melakukan imunisasi, namun sejak masuknya Posyandu di desanya yang dibangun dengan menggunakan alokasi dana dari program gembira desa, masyarakat sudah bisa bernafas lega karena tidak lagi kelur dari desa untuk mengecek kesehatan buah hatinya.

“ itu hanya salah satu contoh saja, jika ingin berbicara jujur lagi, desa ini tidak pernah memiliki masjid, tapi setelah program gembira masuk di desa kami, alhamdulillah sekarang kami sudah dapat membangun masjid dan telah di gunakan sampai saat ini terlebih lagi pengerjaannya dilaksanakan oleh masyarakat  “ kata Heru.

Keinginan Pemerintah Daerah untuk lebih memanusiawikan masyakatnya melalui program Gembira Desa ini tambahnya memang cukup beralasan, adanya alokasi tersendiri pemberian honor atau insentif bagi para pelayan desa tidak bisa di artinya sebagai upaya pengurangan kemiskinan semata, namun terlebih dari itu, sasaran utama dari program ini hanyalah ingin memberikan penghargaan bagi mereka – mereka yang secara tidak langsung telah mengabdikan dirinya selama bertahun  – tahun melayani masyarakat.

“ apakah semua ini dikatakan tidak berhasil, saat ini pula kami masih merencanakan berbagai macam program, namun kami masih melihat hal – hal yang prioritas sehingga pembangunan yang kami lakukan tidak tumpang tindih “ ujar heru.

Terpisah, salah seorang penerima insentif Zainuddin yang ditemui di rumahnya mengaku merasa senang dengan program ini, pria yang sudah menjadi imam masjid bertahun – tahun di Desa Ulungkura ini menuturkan, sejak awal dia menjadi Imam di desa yang berpenghuni lebih kurang 749 jiwa ini, baru di era Pemerintahan Tamasya ( tafdil-Masyhura ) para pelayan desa mendapat perhatian yang cukup serius.

“ honor yang di berikan sebesar 750 ribu setiap tiga bulannya sudah sangat membantu keluarga saya dalam memenuhi kebutuhan sehari – hari, apalagi saya hanya seorang petani yang tidak setiap saat bisa mendapatkan uang dari hasil tanaman saya “ kata Zainuddin.

Senada Zainuddin, Hj. Wahnusa yang berprofesi sebagai dukun bersalin ketika ditanyai mengenai insentif dari pemerintah yang diterimanya , wanita paruh baya ini hanya bisa menitikkan air mata.

“ coba mi kita pikir siapa yang tidak senang, sudah lama saya jadi dukun bersalin baru pi H. Tafdil yang liat kita manusia kasian, karena nanti pi juga dia yang jadi bupati baru ada mi juga gaji ta “ Ujar Hj. Wahnusa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *