MENGENAL KAMPUNG HULAEA LAEA

SHARE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Sepasang pemuka adat (Laki dan perempuan) duduk saling berhadapan. Keduanya dipisahkan sebuah nyiru yang tersaji dengan aneka sesajen. Diiringi bacaan mantra, sesajen itu perlahan diletak diatas anyaman bambu, yang terpancang segi empat diatas tanah. Doa syukurpun terus berlanjut.
Inilah salah satu penggalan proses ritual pesta panen suku adat Moronene di desa Hukaea Laea Kecamatan Lantari Jaya, Kabupaten Bombana. 
Suku Moronene merupakan etnis pribumi yang mendiami wilayah Kabupaten Bombana Sulawesi Tenggara. Suku yang diklaim sebagai suku tertua di Jazirah Sulawesi Tenggara ini, ditengarai berasal dari rumpun melayu tua, yang hijrah ke Sulawesi saat zaman pra sejarah lalu.
Kata Moronene berasal dari paduan kata “moro” dalam bahasa setempat berarti serupa, sama atau serumpun. Sedangkan kata “nene” diambil dari nama sebuah tumbuhan resam. Sejenis tumbuhan paku yang biasanya hidup secara mengelompok di lembah atau tepian sungai. Kulit batangnya bisa dijadikan tali, sedangkan daunnya biasa dijadikan pembungkus kue semisal lemper.
Mulanya suku Moronene mendiami lokasi yang kini jadi kawasan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW). Ini dibuktikan sebuah peta yang dibuat pemerintah Belanda pada tahun 1820 lalu. Dipeta tersebut, tertera lokasi dan nama pemukiman Hukaea.
Namun sesudah Indonesia merdeka.Tepatnya sekitar tahun 1970-an, etnis ini dipaksa pindah dari wilayah adat sesungguhnya. Perkara ini muncul, buntut penetapan sepihak oleh pemerintah atas lokasi TNRAW. Tidak kuasa melawan kehendak negara saat itu, etnis Moronene Hukaea akhirnya menepi ke bagian arah barat daya TNRAW.
Diwilayah barunya itu, mereka kembali membentuk satu pemukiman baru hingga sekarang. Pada tahun 2012 lalu, oleh Pemerintahan Tafdil-Mashura, pemukiman yang terbentang di tengah belantaran hutan itu, dijadikan satu pemerintahan desa bernama Desa Hukaea Laea. Berpenduduk sekitar 300 jiwa, dengan jarak sekitar 27 Km dari Rumbia Ibukota Kabupaten Bombana.
Mayoritas penduduknya masih bercocok tanam. Kendati dipaksa pindah dan mengalami sejumlah intimidasi di zaman orde Baru, Namun etnis Moronene Hukaea, masih teguh memegang atau menjalani tradisi adat istiadatnya secara turun temurun. Satu diantaranya tradisi tersebut, yakni ritual panen Raya.
Ritual ini, dilakukan secara rutinitas setiap tahunnya. Warga Hukaea meyakini, ritual panen raya sebagai persembahan sujud syukur atas limpahan alam yang diberikan oleh Yang Kuasa kepada Manusia.
“Selalu kami lakukan. Ritual itu sudah mengakar dari turun-temurun. Ini bagian sujud syukur atas hasil panen yang diberikan oleh yang Kuasa,” ujar Mansur Lababa salah satu tokoh adat etnis moronene di Hukaea Laea.
Selain sujud syukur, ritual ini diyakini sebagai bagian prosesi untuk menolak balaa atau mengusir hama tanaman yang bisa saja mengganggu atau mengurangi hasil panen masyarakat Hukaea Laea.
Mansur menguraikan, setidaknya ada tiga bagian yang terpenting dalam prosesi acara adat pesta panen di wilayah Hukaea Laea.
Diantaranya, proses adat Moo Oli. Ritual ini dianggap sebagai upaya untuk mengusir roh jahat yang bisa saja mengganggu masyarakat dalam bercocok tanam. Lalu dilajutkan dengan proses mewuwusoi. Ritual ini kata Mansur doa permintaan secara berjamaah.
“Ini doa bersama, memohon Yang Kuasa untuk melepas masa panen selama setahun. Selain itu, persiapan untuk menyambaut musim tanam selanjutnya,” ujarnya.
Terakhir prosesi Mehedoi. Acara ini merupakan luapan kegembiraan atas terselenggaranya proses ritual serta hasil panen yang dicapai masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *