Welcome to Bombana

Berita

PENINGKATAN PRODUKTIVITAS TAMBAK IKAN PASARE APUA CAPAI SATU TON PERHARI

Beberapa program-program pembangunan pedesaan yang pernah dilaksanakan, misalnya program bidang pangan, program Inpres Desa Tertinggal, dan Program Pengembangan Terpadu Antar Desa ( PPTAD ) merupakan Salah satu upaya pemerintah dalam rangka mengembangkan pedesaan dalam mengejar ketertinggalannya dari perkotaan. Hal ini tidak lepas dari tujuan. Pemerintah meningkatkan kesejahteraan masyarakat,  Akan tetap secara keseluruhan program-program tersebut belum mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat karena semakin tingginya kebutuhan pokok tidak di barengi dengan peningkatan produktivitas produktivitas yang saat ini di kembangkan oleh masyarakat, hal ini pula tidak lepas dari masih kurangnya pembangunan sarana infrastruktur   sebagai salah satu faktor penunjang kelancaran peningkatan produktivitas sumber mata pencaharian masyarakat.

Kepala Desa Pasare Apua Kecamatan Lantari Jaya Abdul Mutalib saat disambangi pewarta majalah ini Pekan lalu mengakui hal tersebut, menurutnya dewasa ini berbagai persoalan yang membutuhkan penanganan pembangunan masyarakat desa sesungguhnya sangat mendesak, seperti ketertinggalan desa dari kota hampir di segala bidang, tidak terakomodasinya keinginan dan kebutuhan masyarakat dalam program-program pemerintah, dan kualiatas pendidikan dan kesejahteraan masih rendah semakin menambah kesenjangan social di tengah masyarakat sendiri.

“ syukurnya sejak di luncurkan program Gembira Desa Pemerintah Bombana tiga tahun belakangan ini, apa yang menjadi kebutuhan mendesak masyarakat khususnya di Desa Pasare Apua yang mayoritas penduduknya sebagai Petani Tambak sedikit Demi sedikit sudah bisa  terpenuhi “ kata Abdul Mutalib.

Abdul mutalib menjelaskan Dampak lain dari Alokasi Anggaran Gembira Desa ini bukan hanya menyasar pengembangan sisi infrastruktur Desa Pasare Apua dengan sistem swakelolah, para aparat desa sendiri baik itu yang berprofesi sebagai Imam masjid, Dukun bersalin  turut pula keciprakan dana ini.

PROGRAM GEMBIRA HARMONISASIKAN PEMBANGUNAN DAN PERENCANAAN DI DESA ANUGRAH

Rumbia. Realitas yang ada menunjukkan bahwa kutub perencanaan teknokratis dan perencanaan politis masih mendominasi alokasi anggaran pembangunan daerah. Sementara di lain pihak, hasil-hasil perencanaan partisipatif yang merupakan representasi aspirasi masyarakat masih kurang mendapat tempat dalam pembagian alokasi anggaran pembangunan. Ketimpangan tersebut tidak hanya memunculkan persoalan manajerial perencanaan saja, tetapi lebih jauh dari itu, telah muncul anggapan bahwa pengalokasian anggaran pembangunan daerah kurang mampu mengakomodir kepentingan dan aspirasi masyarakat. Permasalahan yang mengakibatkan munculnya ketimpangan berbagai kutub perencanaan tersebut adalah rendahnya mutu proses dan mutu hasil perencanaan partisipatif. Disamping itu, hasil-hasil perencanaan partisipatif belum mampu dikanalisasi untuk mewarnai hasil perencanaan teknokratis dan perencanaan politis.

Pelaksana Kepala Desa Anugrah I Putu Arta Wayasa mengungkapkan upaya memperkuat proses perencanaan partisipatif dipandang sebagai langkah strategis dalam mewujudkan harmonisasi perencanaan dan penganggaran pembangunan. Perbaikan tersebut meliputi aspek metodologi, kualitas proses dan dukungan pendampingan yang memadai. Panduan Pelaksanaan program – program yang digalakkan pihak pemerintah haruslah seiring dan sejalan apa yang menjadi keinginan masyarakat, karena bukan tidak mungkin ketersesuaian pembangunan akan berbenturan antara kebijakan dengan keinginan.

“ makanya pelaksanaan program gembira di desa kami sebelum dilaksanakan terlebih dahulu kami rapatkan melalui musrembang tingakt desa kemudian kami usulakan menjadi program kegiatan yang biayanya kami ambil dari alokasi dana gembira desa “ papar I Putu Arta Wayaasa.

Namun di satu sisi dirinya enggan merinci lebih jauh apa saja yang menjadi fokus pembangunan di desanya selama, dirinya beralasan hal tersebut masih menjadi kewenangan Kepala Desa lama, tapi secara garis besar dirinya mengakui bahwa apa yang diraih melalui program Gembira Desa  tahun sebelum dirinya menjabat banyak perubahan di desanya.

“ kalau sejak saya menjabat selaku pelaksana kepala Desa Anugrah ada beberapa fokus pembangunan yang saya laksanakan seperti pembangunan Jembatan Penghubung Desa, Deukker dan Papan Desa serta perbaikan Kantor Desa “ Arta sembari mengajak Pewarta Majalah ini melihat langaung pembangunan jembatan tersebut.

Bukan  hanya itu, Pria yang lahir di pulau Dewata Bali ini mengakui untuk proses pembangunan melalui alokasi dana gembira desa sebanyak 350 juta pertahunnya yang di gelontorkan pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Bombana lebih banyak dirinya gunakan untuk pembangunan sarana fisik, namun di satu pihak Arta tak memungkiri masih banyak yang telah dia programkan belum bisa terlaksana tahun ini salah satunya pembangunan Rumah Ibadah Pura.

“ Pengalokasian dana inikan harus sesuai Petunjuk Tehnik Operasional ( PTO ) yang sudah ditentukan, penyaluran dana ini bukan hanya untuk fisik semata, pemberian insentif bagi pelayan dan aparat desa juga meciprakan dana ini, sehingga program – program lainnya kemungkinan besar tahun depan baru kita usulkan “ kata Pria bertubuh kekar ini.

Sementara itu ditempat terpisah, ketua Badan  Pembangunan Desa ( BPD ) Desa Anugrah Suparno saat di temui menuturkan apa yang menjadi fokus pembangunan di Desa anugrah  melalui alokasi dana gembira sudah mencapai hasrat pembangunan yang berkembang di masyarakat selama ini, pasalnya Kebijakan perencanaan pembangunan desa merupakan suatu pedoman-pedoman dan ketentuan-ketentuan yang dianut atau dipilih dalam perencanaan pelaksanakan pembangunan di desa yang mencakup seluruh aspek kehidupan dan penghidupan masyarakat haruslah berlandaskan tujuan menuju kesejahteraan masyarakat.


Peta Administrasi

Klik untuk Memperbesar

Peta Administrasi

Klik untuk Memperbesar

Peta Administrasi

Klik untuk Memperbesar

Peta Administrasi

Klik untuk Memperbesar