PELAKSANAAN O2SN MENUAI SOROTAN

SHARE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

RUMBIA – Kegiatan Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) di Kabupaten Bombana yang digelar sejak senin (29/4) dinilai mengecewakan banyak pihak, terutama guru pendamping siswa yang ikut olimpiade tersebut. Pasalnya, pelayanan panitia penyelenggara terhadap kontingen O2SN dari berbagai sekolah diseluruh kecamatan, tidak maksimal. Tidak hanya itu, pengelolaan setiap lomba dan pertandingan juga tidak profesional.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Olahraga (Dikpora) Kabaena Utara, Rudi Hartono mengaku kecewa dengan penyelenggaraan O2SN tahun ini. Pasalnya, cabang Dikpora Kabaena Utara sudah menghabiskan anggaran swadaya guru sebesar 49 juta rupiah. Namun hasilnya yang di peroleh sungguh tidak sesuai harapan.

“Untuk olahraga karate kami juara satu. Tapi hadiahnya hanya handuk kecil,”keluhnya

“Untuk olahraga renang, panitia tidak menyiapkan lintasan. Apalagi olahraga ini dilaksanakan dilaut, sehingga hasilnya tidak sesuai harapan,”sambungnya.

Tidak hanya itu, selama pelaksanaan O2SN, kontingen hanya dibiarkan berdesak desakan diruangan kecil yang disiapkan panitia di Taubonto Kecamatan Rarowatu.

“Seharusnya ini diantisipasi sebelumnya oleh panitia,”kata Rudi saat di temui Kamis (2/5).

Terpisah, Wakil Sekretaris Umum (Wasekum) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Bombana, Asbar SPd mengatakan, pelaksanaan O2SN harus menyentuh substansi event tahunan ini. Agar dapat menghasilkan anak didik yang berprestasi pada tingkat lokal maupun nasional.

Menurut Asbar, pelaksanaan O2SN di Bombana idealnya dimulai dari kompetisi pada tiga wilayah yakni Kabaena, Poleang dan Rumbia.

“Ini akan lebih efektif. Nantinya yang dikompetisikan di Ibukota Kabupaten, hanya juara juara ditiap wilayah saja. Agar pelaksanaan kegiatan ini lebih efektif,”katanya.

Asbar juga mengungkapkan banyaknya anggaran yang dihabiskan oleh tiap cabang dinas Dikpora untuk mobilisasi dan persiapan kontingen O2SN.

“Untuk cabang dinas Mataoleo dan Rumbia Tengah saja, bisa menelan anggaran sekitar 70 juta rupiah yang bersumber dari swadaya sekolah, belum cabang dinas yang lain dari 22 kecamatan,”katanya.

Namun yang lebih penting, lanjut Asbar, pelaksanaan O2SN harus mempertimbangan jam belajar siswa.

“Jam belajar siswa tidak boleh terganggu. Karena selama O2SN di Taubonto, banyak sekolah hampir disemua kecamatan teranggu belajarnya. Apalagi siswa siswa sekolah dasar yang sedang menghadapi ujian nasional,”tukasnya seraya mengharapkan agar O2SN tahun depan bisa dilaksanakan secara efektif dan lebih baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *