PEMBANGUNAN SARANA PELAYANAN PUBLIK DESA BATU SEMPE MULAI MENJAMUR

SHARE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Rumbia. Dinamika pembangunan infrastruktur Desa Batu Sempe Kecamatan mataoleo boleh dibilang mengalami kemajuan yang sangat signifikan jika di bandingkan dengan beberapa desa lainnya yang ada di Kecamatan Mataoleo, pasalnya sejak era Pemerintahan Tamasya ( Tafdil – Masyhura ), berbagai program baik itu yang menyangkut pengembangan infrastruktur melalui alokasi Dana Gembira Desa, bahkan perhatian pemerintah menyangkut kemaslahatan hidup para aparatur dan pelayan desa hingga masyarakat hampir secara keseluruhan bisa terpenuhi.


Hal tersebut di akui pula Kepala Desa Batu Sempe saat di temui di Kediamannya pekan lalu, menurut Zainal Arifin, tidak bisa di pungkiri bahwa sejak kurun waktu 2 tahun belakangan ini, di desa yang berpenduduk lebih kurang 580 jiwa ini dari sisi infrastruktur sangat banyak sarana dan prasarana yang telah di bangun di desanya, khususnya yang menyangkut pelayanan masyarakat, dirinya mencontohkan salah satu pembangunan yang telah rampung dan di gunakan masyarakat Desa Batu Sempe yakni Polindes.

” Pembangunan Polindes ini secara keseluruhan mengunakan Dana Gembira Desa, pembangunannya juga rampung tahun 2012 lalu, dan sejak tahun 2013 lalu sudah mulai di gunakan oleh warga hingga saat ini ” papar Zainal.

Selain Polindes kata Zainal, Alokasi Dana Gembira Desa yang kucur di masa Pemerintahan Tamasya juga di alokasi untuk pembangunan Talud sepanjang 60 Meter dan pembangunan Dermaga Perahu sepanjang 17 meter dari bibir pantai.  Zainal beralasan, pembangunan kedua sarana tersebut sangat memiliki manfaat yang sangat besar bagi masyarakat desanya, selain Desanya yang berbatasan langsung dengan garis pantai, Zainal yang sudah 2 periode ini menjabat sebagai Kepala Desa menuturkan bahwa sebagian penduduk yang bermukim di desa tersebut  pada awalnya berasal dari Pulau Masaloka, sehingga jika ada tamu atau mereka ingin berkunjung ke masaloka atau daerah lain dengan menggunakan perahu, maka perahun mereka bisa langsung sandar di dermaga.

” Sebenarnya dasar pemikiran pembangunan dermaga ini karena setiap air surut masyarakat harus berjalan kaki menuju perahu mereka jika ingin bepergian, tapi setelah dibangunnya dermaga ini, alhamdulillah hal itu sudah tidak terjadi lagi ” kata Zainal.

Bukan hanya itu, Zainal menjelaskan bahwa Dengan adanya Alokasi Dana Gembira Desa 350 juta pertahun, telah banyak program pembangunan baik itu dari saran fisik maupun dari sisi sosialnya, dirinya merinci, selain fisik berupa pembangunan jalan Desa, pembangunan Pagar Kantor dan Drainase lebih kurang 200 meter, dari aspek sosialnya, masyarakat juga turut keciprakan manfaat dana tersebut.

” Kalau yang langsung dirasakan masyarakat pak sangat beragam, karena sejak 2012 lalu kami telah membantu perbaikan Rumah Tidak Layak Huni T RTLH ) sebanyak 30 rumah dan bantuan Bubuk Kepiting 2000 buah ” kata Zainal.

” Bahkan aparatur dan pelayan desa juga turut merasakan,  baik itu Dukun Bersalin, BPD, bahkan Guru mengaji dan kelompok pemuda merasakan manfaat dari Program Gembira Desa ini” tambahnya.

Sementara itu, salah satu penerima bantuan Bubuk Kepiting di Desa Batu Sempe La Gado menuturkan bahwa sejak dirinya menerima bantuan Bubuk Kepiting tersebut sebanyak 150 buah, penghasilannya sebagai nelayan mengalami peningkatan yang cukup baik, bahkan pria breok ini mengaku kalau selama ini penghasilannya telah bertambah dua kali lipat dari sebelum mendapat bantuan bubuk tersebut.

” Tidak usah mi saya bilang pak berapa penghasilanku tiap bulan, tapi yang pasti sebelum ada ini bubuk kepiting susah sekali saya hidupi keluargaku karena kita tau sendiri mi kalau nelayan orang berapa ji dia dapat, tapi adami ini kasian bubuk kepiting banyak – banyak mi juga sa dapat uang tiap bulan karena kalau naik ini bubuk biasa 5 sampai sepuluh kepiting isi satu bubuk ” ungkap Pria kelahiran Masaloka ini .

Berbeda dengan La Gado, guru mengaji La ima. Yang merupakan salah satu penerima honor dari alokasi Dana Gembira Desa tersebut ketika ditanyai apakah pernah mendapat honor dari pemerintah sejak menjadi Guru mengaji di desa Batu Sempe, perempuan yang usianya sudah menginjak 50 tahun lebih tersebut hanya berurai air mata, pasalnya sebagai satu – satunya guru mengaji yang sudah mengajar anak-anak di desa tersebut  selama puluhan tahun, dirinya belum pernah sama sekali mendapat honor  dari pemerintah.

” Jangankan uang pak, al Qur’an saja tidak pernah kita di kasikan sama pemerintah, nanti pi 2 tahun ini sa dapat uang gaji 750 ribu tiap tiga bulan ” kata La ima yang di amini Lajiu salah seorang penerima bantuan RTLH sambil menjelaskan setiap dirinya menerima honor selalu bersamaan dengan iman desa dan dukun bersalin di desa tersebut.

Ditempat terpisah, ketua Karang Taruna Rahwana Desa Batu Sempe La Ode kasman sangat mengapresiasi penyaluran dana Gembira Desa ini, sebab menurutnya selain menyentuh aspek pembangunan desa yang dirindukan masyarakat, dana ini juga ternyata secara langsung bisa dirasakan manfaatnya oleh warga.
Kasman mencontohkan, jika selama ini aparatur desa dan para pelayan desa hanya bekerja dengan keikhlasan, melalui Gembira desa mereka sudah dapat dikatakan telah di manusiakan.

” Bayangkan saja, bertahun – tahun mereka mengabdi tanpa gaji dari pemerintah, secara ekonomi dengan adanya gaji dari dana ini hal itu telah membantu perekonomian mereka, bahkan kami pun selaku kelompok pemuda kerap mendapat bantuan ketika ingin melaksanakan kegiatan baik bantuan sarana olah raga maupun lainnya ” ungkap Kasman.( Nia )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *