PROGRAM GEMBIRA HARMONISASIKAN PEMBANGUNAN DAN PERENCANAAN DI DESA ANUGRAH

SHARE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Rumbia. Realitas yang ada menunjukkan bahwa kutub perencanaan teknokratis dan perencanaan politis masih mendominasi alokasi anggaran pembangunan daerah. Sementara di lain pihak, hasil-hasil perencanaan partisipatif yang merupakan representasi aspirasi masyarakat masih kurang mendapat tempat dalam pembagian alokasi anggaran pembangunan. Ketimpangan tersebut tidak hanya memunculkan persoalan manajerial perencanaan saja, tetapi lebih jauh dari itu, telah muncul anggapan bahwa pengalokasian anggaran pembangunan daerah kurang mampu mengakomodir kepentingan dan aspirasi masyarakat. Permasalahan yang mengakibatkan munculnya ketimpangan berbagai kutub perencanaan tersebut adalah rendahnya mutu proses dan mutu hasil perencanaan partisipatif. Disamping itu, hasil-hasil perencanaan partisipatif belum mampu dikanalisasi untuk mewarnai hasil perencanaan teknokratis dan perencanaan politis.

Pelaksana Kepala Desa Anugrah I Putu Arta Wayasa mengungkapkan upaya memperkuat proses perencanaan partisipatif dipandang sebagai langkah strategis dalam mewujudkan harmonisasi perencanaan dan penganggaran pembangunan. Perbaikan tersebut meliputi aspek metodologi, kualitas proses dan dukungan pendampingan yang memadai. Panduan Pelaksanaan program – program yang digalakkan pihak pemerintah haruslah seiring dan sejalan apa yang menjadi keinginan masyarakat, karena bukan tidak mungkin ketersesuaian pembangunan akan berbenturan antara kebijakan dengan keinginan.

“ makanya pelaksanaan program gembira di desa kami sebelum dilaksanakan terlebih dahulu kami rapatkan melalui musrembang tingakt desa kemudian kami usulakan menjadi program kegiatan yang biayanya kami ambil dari alokasi dana gembira desa “ papar I Putu Arta Wayaasa.

Namun di satu sisi dirinya enggan merinci lebih jauh apa saja yang menjadi fokus pembangunan di desanya selama, dirinya beralasan hal tersebut masih menjadi kewenangan Kepala Desa lama, tapi secara garis besar dirinya mengakui bahwa apa yang diraih melalui program Gembira Desa  tahun sebelum dirinya menjabat banyak perubahan di desanya.

“ kalau sejak saya menjabat selaku pelaksana kepala Desa Anugrah ada beberapa fokus pembangunan yang saya laksanakan seperti pembangunan Jembatan Penghubung Desa, Deukker dan Papan Desa serta perbaikan Kantor Desa “ Arta sembari mengajak Pewarta Majalah ini melihat langaung pembangunan jembatan tersebut.

Bukan  hanya itu, Pria yang lahir di pulau Dewata Bali ini mengakui untuk proses pembangunan melalui alokasi dana gembira desa sebanyak 350 juta pertahunnya yang di gelontorkan pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Bombana lebih banyak dirinya gunakan untuk pembangunan sarana fisik, namun di satu pihak Arta tak memungkiri masih banyak yang telah dia programkan belum bisa terlaksana tahun ini salah satunya pembangunan Rumah Ibadah Pura.

“ Pengalokasian dana inikan harus sesuai Petunjuk Tehnik Operasional ( PTO ) yang sudah ditentukan, penyaluran dana ini bukan hanya untuk fisik semata, pemberian insentif bagi pelayan dan aparat desa juga meciprakan dana ini, sehingga program – program lainnya kemungkinan besar tahun depan baru kita usulkan “ kata Pria bertubuh kekar ini.

Sementara itu ditempat terpisah, ketua Badan  Pembangunan Desa ( BPD ) Desa Anugrah Suparno saat di temui menuturkan apa yang menjadi fokus pembangunan di Desa anugrah  melalui alokasi dana gembira sudah mencapai hasrat pembangunan yang berkembang di masyarakat selama ini, pasalnya Kebijakan perencanaan pembangunan desa merupakan suatu pedoman-pedoman dan ketentuan-ketentuan yang dianut atau dipilih dalam perencanaan pelaksanakan pembangunan di desa yang mencakup seluruh aspek kehidupan dan penghidupan masyarakat haruslah berlandaskan tujuan menuju kesejahteraan masyarakat.

“ saya mencontohkan, dengan dibangunnya Jembatan Desa tahun ini tidak lagi merepotkan masyarakat yang jika ingin pergi kerumah sanak familinya tidak lagi harus memutar melewati jalan setapak desa “ pungkas Suparno.

Memang jika kita ingin melihat lebih jauh tentang konseptualisasi perubahan Paradigma lama pembangunan perdesaan pada masa sebelum era otonomi memang telah mengalami pergeseran yang signifikan, entah program di daerah lain sama atau tidak dengan Peluncuran Program Gembira Desa di Kabupaten Bombana, pada prinsipnya keterlibatan masyarakat, baik itu sebagai pengelolah maupun penerima dari kucuran alokasi dana Gembira Desa ini memang cukup terasa di tengah – tengah masyarakat.

Salah seorang penerima insentif  Pelayan Desa Tukira yang berprofesi sebagai Dukun bersalin di Desa Anugrah, ketika ditanyai kala pertama menerima Honor dari Pemerintah Daerah melalui Program Unggulan Tamasya ini hanya bisa menyeka air matanya, wanita paruh baya ini hanya biya mengucapkan terima kasih karena sudah diperhatikan oleh pihak pemerintah.

“ sudah lama saya menjadi dukun bersalin, tapi tidak pernah menerima gaji dari pemerintah, kasi tau Bupati sama Wakilnya terima kasih banyak “ papar wanita yang usianya kini menginjak 80 tahun ini yang di amini Imam Musollah Desa Anugrah H. Suprapto kala di temui di kediaman Kepala Desa. (Nhia)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *